Live In Zoom

Sabtu , 17 Juli 2021

Pukul : 08:00 – 12:30 WIB

Poltekkes Hermina Prodi Farmasi

Program studi
D-III Farmasi Politeknik Kesehatan Hermina telah mengadakan Webinar Pengabdian
kepada Masyarakat (pengmas)
pada hari Sabtu, tanggal 17 Juli 2021 melalui zoom meeting dan live
streaming
youtube Poltekkes Hermina
dengan tema “Mendongkrak Imunitas dari Pekarangan Rumah”. Pangabdian kepada
masyarakat ini merupakan perwujudan
dari salah satu Tri Dharma Perguruan
tinggi yang
memilih materi edukasi berdasarkan kebutuhan masyarakat saat ini yang sedang dihadapkan dengan
kondisi pandemi Covid-19 dan
masa Pembatasan
Sosial Berskala Besar (PSBB) yang dilanjutkan dengan Pemberlakuan
Pembatasan Kegiatan Masyarakat
(
PPKM) serta Pemberlakuan Pengetatan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, 3, dan 2.

Webinar pengabdian masyarakat ini diikuti
oleh 822 peserta yang terdiri dari 522 Apoteker, 24
orang Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK), 266 orang mahasiswa dan 10 orang
masyarakat umum
.

Direktur Politeknik Kesehatan Hermina, Ibu
Lisnadiyanti, SKM., M.Kep berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang
besar bagi kita semua terutama di tengah pandemi yang semakin memprihatinkan,
terutama dalam memberikan literasi ilmu pengetahuan sehingga para peserta
webinar
pengmas dapat menerapkan materi untuk manfaat
kesehatan diri masing-masing.
“… mudah-mudahan dengan tema hari ini, saya berharap besar, tema ini dapat memberikan manfaat, pengetahuan, dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita masih tetap bisa survive di dalam kondisi yang tidak memungkinkan kita melakukan mobilisasi kemana-mana. Jadi tetap stay di rumah dengan tetap melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan kita dengan lebih baik” Ibu lisnadiyanti, SKM., M.Kep.

Webinar ini diisi oleh lima orang pembicara yang ahli di bidangnya masing-masing. Pembicara pertama adalah Ibu Dia Septiani, S.Si., M.Farm yang membahas tentang Infeksi dan Imunitas Tubuh Manusia. Beliau menyampaikan respon imun terhadap infeksi virus bergantung pada jenis virus, jalur transmisi, dan kemampuan dalam replikasi di dalam sel host. Selain itu terdapat tiga mekanisme virus dalam menginisiasi respon imun, yaitu melalui interferon, antibodi dan mekanisme sitostoksik. Sistem imun dapat ditingkatkan dengan memperhatikan pola makan, aktivitas fisik dan istirahat yang cukup serta meminimalisir stress.

Pembicara kedua adalah Prof. Dr. Apt. Maksum Radji, M.Biomed yang merupakan Ahli Mikrobiologi molekular dan pemerhati vaksin dengan mengangkat materi yang sangat dinanti-nanti oleh para peserta, yaitu Strategi Herd Immunity dalam Mengatasi Wabah COVID-19. Beliau membawa tiga materi utama yaitu tinjauan biologi molekuler virus SARS-COV-2, pengembangan vaksin dan efektivitas vaksin covid-19 serta herd imunity dan tantangan vaksinasi.

Prof. Maksum menyampaikan kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini (16 Juli 2021), terjadi peningkatan 7-9 kali lipat jumah kasus dibandingkan Mei lalu sehingga menyebabkan penumpukan pasien termasuk di tenda darurat, varian-varian baru yang sangat mudah menular, kematian akibat Covid-19 juga meningkat tajam serta bed occupation rate (BOD) ICU dan ruang isolasi lebih dari 90%. Selain itu, kondisi tenaga kesehatan dan tenaga medis yang mulai lelah dan kewalahan yaitu 83% menalami Burnoout syndrome berat dan sedang, dimana sebanyak 41% Tenaga Kesehatan mengalami keletihan emosi. Dokter dan bidan pun beresiko dua kali mengalami keletihan emosi. Tercatat saat ini lebih dari 1.133 tenaga kesehatan wafat (Pusara Digital LaporCovid-19, 8 Juli 2021). Lanjut Prof Maksum, yang menjadi perhatian para ahli pada virus Covid adalah spike glycoprotein (S), yang merupakan protein paling luar dari mahkota virus SARS- COV-2 yang akan berinteraksi dengan reseptor yang ada di dalam sel-sel yang dikenali.  Angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) yang dicari oleh virus SARS ini, dan sebagian besar berada disaluran pernafasan. SARS-Cov-2 bertemu dengan reseptor ACE2, kemudian masuk (uncoting), lalu dilepaskan selubungnya kemudian virus memasukkan materi genetik, lalu ditranslasi menjadi protein kemudian terjadi morfogenesis dan keluar lagi membawa sebagian protein-protein pada membran sel hostspace. Saat virus itu release terjadilah cidera pada permukaan sel paru-paru, yaitu virion menginfeksi sel-sel tetangga dari jaringan paru-paru selama inkubasi. Sehingga hal tersebutlah yang menyebabkan timbulnya gejala demam, batuk, sesak nafas dan sebagainya. Lalu, bagaimana agar bisa menanggulangi infeksi virus covid-19? yang paling baik adalah dengan mencegahnya bukan mengobati. Mencegah infeksi ini yaitu dengan dilakukan vaksin. Platform vaksin Covid-19 ini sudah sangat banyak, mulai dari konvensional yaitu virus utuh yang dimatikan atau dilemahkan. Demikian pula dengan beberapa komponen vaksin yang dikembangkan yaitu berbasis DNA, berbasis RNA, berbasis protein dan melalui viral vektor untuk menghantarkan vaksin tadi.

Di Indonesia juga sudah dikembangkan vaksin merah putih, yaitu dari Eijkmen adalah protein subunit, dari LIPI dan UGM adalah protein rekombinan fusi, UI mengembangkan vaksin-vaksin berbasis asam nukleat, sedangkan ITB dan Unair mengembangkan vaksin berbasis adenoviral untuk menghantarkan protein ataupun materi genetik ke tubuh. Pengembangan vaksin secara normal membutuhkan waktu yang sangat panjang dari mulai pre klinik dan klinik fase I-IV akan memakan waktu bertahun tahun. Namun untuk vaksin covid-19 mengalami percepatan, yaitu kurang dari 1 tahun. Akan tetapi aspek safety dan resiko tetap diperhatikan seperti halnya vaksin konvensional. Bagaimana vaksin bisa bekerja? Untuk vaksin
berbasis virus yang dilemahkan bekerja dengan cara, ketika vaksin atau antigen masuk akan ditangkap oleh antigen presenting cell pada sistem
kekebalan tubuh, kemudian bekerja sama sel T helper dan bersama-sama akan men-triger fungsi dari sel B untuk menghasilkan antibodi yang nantinya dapat memblok spike virus dengan reseptor yang ada di dalam tubuh. Untuk vaksin berbasis mRNA, yaitu RNA diambil dari fragmen genome fari virus terutama gen spike-nya dan direkayasa dan dikutip dengan nano partikel dan disuntikkan. Bedanya dengan vaksin konvensional, materi genetik yang disuntikkan, sel host sendiri akan menghasilkan protein dan protein ini meng-influent sistem kekebalan tubuh sehingga memproduksi antibodi. Untuk platform vaksin lain, dimana direkayasa sedemikian rupa gen spike masuk ke dalam vektor virus dan sama halnya dengan vaksin lain, akan menghasilkan respon imun.

Prof. Maksum lanjut menjelaskan dengan berbagai macam vaksin yang sudah tersedia di Indonesia, yaitu sinovac dengan efikasi 65%, sinopharm 79%, astrazeneca 70%, sedangkan yang berbasi mRNA ada moderna dengan efikasi 94%, dan bulan depan (Agustus) akan masuk pfizer-BionTech dengan efikasi 95%, sehingga akan ada 5 platform vaksin yang akan ada di indonesia. Program vaksinasi ini juga tentu tidak hanya ada di Indonesia, sebanyak lebih 180 negara telah melaksanakan vaksinasi massal (17 Juli 2021). Lebih dari 3,5 miliar dosis vaksin sudah disuntikkan yaitu rata-rata 30 juta vaksin Covid-19 disuntikkan.  Di Indonesia sendiri, per tanggal 17 Juli 2021 lalu sudah sekitar 57 juta dosis, dengan kecepatan rata-rata sekitar 857 ribu dosis perhari dengan target vaksinasi adalah 182 juta orang. Lantas apa tujuan dari vaksinasi ini sendiri?
Tentu saja adalah untuk mencapai herd imunity. Apabila sudah tercapai, maka tentu morbiditas dan mortalitas akibat covid-19 akan turun, memperkuat sistem kesehatan masyarakat, dan menjaga produktivitas dan meminimalkan dampak sosial dan ekonomi.

Beliau juga menyampaikan herd imunity merupakan proteksi tidak langsung yang bisa didapatkan oleh individu yang rentan terhadap suatu infeksi karena proporsi individu yang imun (kebal) terhadap infeksi tersebut sudah berjumlah besar dalam suatu populasi. Lanjut Prof. Maksum, pencapaian herd imunity COVID-19 diharapkan dapat meredam pandemi dan juga dapat melindungi kelompok yang rentan dari infeksi. Untuk mencapai ambang batas herd imunity ini yang diperlukan adalah 70-80%, yang berarti minimal 70-80% populasi yang sudah tervaksinasi ataupun memiliki kekebalan terhadap COVID-19. Namun, pencapaian herd imunity secara alami tidak realistis dan berbahaya karena dapat menimbulkan angka kematian yang sangat tinggi. Sehingga vaksinasi merupakan pilihan yang tepat dalam mencapai herd imunity.

Prof. Dr. Apt Maksum Radji, M.Biomed pun memberikan rekomendasi, selama pandemi harus diwaspadai munculnya berbagai mutan/ varian sehingga kita harus terus meningkatkan protokol kesehatan (prokes) dan juga genomic surveillance. Protokol kesehatan juga hendaknya ditingkatkan dan menghindari kerumunan serta tempat-tempat yang tertutup.

“Tiga hal penting dalam menghadapi COVID-19 ini yang terutama adalah kita secara spiritual selalu senantiasa meningkatkan keimanan, mentaati prokes. Dan imunitas ini harus kita tingkatkan dengan vaksinasi, istirahat yang cukup, konsumsi menu seimbang dan jangan lupa olahraga dan berjemur di pagi hari” ujar Prof. Maksum.

Pembicara ketiga, beralih ke tema herbal dan pekarangan rumah bersama apt. Dwi Kurnia Putri, S.Farm., M.Si. Beliau membawakan materi Herbal Asli Indonesia untuk Meningkatkan Imunitas Tubuh dan Cara Menanam Herbal secara Sederhana di Pekarangan Rumah. Apoteker Dwi menyampaikan beberapa tanaman yang sudah mempunyai bukti secara ilmiah dapat dikonsumsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh, Tanaman-tanaman tersebut bahkan bisa ditemui dengan mudah di pekarangan rumah, seperti meniran, jahe, temulawak, jambu biji, sambiloto dan kunyit. “Bagian yang digunakan, dosis penggunaan, dan cara pengolahan harus tepat dan disesuaikan dengan literatur ilmiah” ujar apotekerDwi. Selain itu, beliau juga menyampaikan agar masyarakat dapat memanfaatkan pekarangan rumah dengan menaman tanaman obat keluarga (TOGA). Webinar pengmas ini dilanjutkan dengan kegiatan demonstrasi melalui pemutaran video kepada para peserta. Demonstrasi pertama dipaparkan oleh apt. Milda Rianty Lakoan, M.Farm mengenai Demonstrasi Cara Mengolah Herbal. Apoteker Milda melakukan pemutaran dan penjelasan video mengenai pembuatan tiga jenis jamu yang paling populer di masyarakat Indonesia terutama di masa pandemi sekarang ini, yaitu jamu kunyit asam, beras kencur dan empon-empon. Semua jamu ini memiliki efek untuk meningkatkan imunitas. Kunyit misalnya, memiliki kandungan curcumin yang bertindak sebagai antiinflamasi, antioksidan, dan imunomodulator. Begitupun dengan jahe, temulawak, kencur dan sereh. Demonstrasi selanjutnya disampaikan oleh apt. Devi Maulina, S.Farm., M.Biomed, mengenai Metode Pembuatan Pupuk dari Sampah Organik (Takakura). Apoteker Devi memberikan tips mengolah sampah organik di rumah tangga dengan cara dipilah sejak awal sehingga bisa dimanfaakan dengan baik menjadi pupuk (penyubur tanaman). Cara ini juga bisa menjadi salah satu solusi pengurangan sampah rumah tangga serta bisa menghasilkan pupuk organik untuk digunakan sebagai penyubur TOGA di rumah. Apoteker Devi lanjut menyampaikan, “menurut Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta produksi sampah di Jakarta mencapai 7.000 ton setiap hari dan tidak ada proses pemilahan sama sekali, semuanya bercampur antara sampah organik dan non organik. Sampah organik berada di angka 60% atau 4.000 ton.”. Masyarakat diharapkan berperan aktif untuk tidak menumpuk sampah dan memilah jenis sampah dari rumah supaya lebih bermanfaat, salah satunya dengan membuat pupuk organik metode takakura.

Webinar pengmas ini dikemas secara interaktif dengan melibatkan peserta yang mau bertanya secara langsung kepada narasumber serta memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengimplementasikan materi webinar yang didapatkan dengan memberikan penugasan kepada peserta untuk membuat video mengenai pembuatan jamu baik salah satu jamu yang sudah dipaparkan pada materi demonstrasi ataupun jenis jamu yang biasa dikonsumsi sehari-hari di rumah masing-masing.

Tanggal terbit: 18 September 2021

Narasumber: Prof. Dr. Apt. Maksum Radji, M.Biomed,
Dia Septiani, S.Si., M.Farm, apt. Dwi Kurnia Putri, S.Farm., M.Si, apt. Milda
Rianty Lakoan, M.Farm, apt. Devi Maulina, S.Farm., M.Biomed

Kata kunci: pandemi Covid-19, herd immunity,
herbal, TOGA, jamu, takakura, pengmas, prodi D-III Farmasi, Poltekkes Hermina

Mendongkrak Imunitas dari Pekarangan Rumah

Artikel yang Direkomendasikan